Cikal Bakal Pelayanan (1972)
Pada awal tahun 1972, Batam mulai berkembang sebagai pusat industri dan perdagangan, menarik banyak profesional dan pekerja dari berbagai daerah di Indonesia. Di antara mereka, terdapat sejumlah keluarga Kristen yang merasakan kebutuhan mendesak untuk membentuk persekutuan dan melaksanakan ibadah bersama. Kumpulan awal ini difasilitasi oleh sebuah perusahaan di kawasan Batu Ampar, yang kini dikenal sebagai McDermott. Lokasi ini menjadi titik awal bagi komunitas Kristen untuk berkumpul dan membangun fondasi iman mereka di Batam.
Melihat potensi pelayanan yang besar, GPIB Baitani Pulau Sambu, sebuah jemaat yang mapan di pulau seberang dan menjadi pusat aktivitas bagi pekerja minyak, mengambil inisiatif untuk memperluas jangkauan pelayanannya. Mereka mulai memberikan pelayanan rohani dan membentuk pos pelayanan di Batam, khususnya di lingkungan McDermott.
Secara paralel, GPIB Zebulon Batam juga mulai bertumbuh sebagai pos pelayanan lain di kota yang sama, menunjukkan bagaimana kebutuhan akan kehadiran gereja sangat terasa di Batam yang sedang berkembang pesat.
Perjalanan Menuju Kemandirian (1980-1981)
Perkembangan pos-pos pelayanan ini mengindikasikan semakin kuatnya komunitas GPIB di Batam. Pada tahun 1980, GPIB Sebulon Batam secara resmi dilembagakan menjadi jemaat mandiri oleh GPIB Baitani Pulau Sambu. Ini merupakan langkah signifikan dalam memperkuat struktur organisasi gerejawi di Batam.
Setahun kemudian, pada 1981, pos pelayanan yang akan menjadi GPIB Immanuel Batam juga diresmikan kemandiriannya. Proses ini dilakukan oleh GPIB Sebulon Batam, yang baru saja mandiri, menunjukkan semangat pelayanan dan pewarisan tugas yang kuat dalam tubuh GPIB. Dengan demikian, GPIB Immanuel Batam secara resmi berdiri sebagai jemaat mandiri di Kota Batam pada tahun tersebut.
